Oke, sekarang tinggal hitung mundur.
Tiga... Dua... Satu..
KRINGGG!
Yeay!
pekikku dalam hati. Bel tanda berakhirnya kegiatan sekolah berbunyi membuatku
senyumku merekah begitu lebar. Dengan semangat kurapikan semua barang-barangku
kedalam tasku. Setelah berdoa bersama, ku segerakan kakiku untuk keluar dari
kelas, mengambil sepatuku yang ikut tertata rapi didepan kelas, lalu berjalan
dengan terburu-buru menuju parkiran sekolah. Aku melihat sahabatku, Dana, sudah
duduk manis di atas motornya dengan mengenakan helm warna putih kesayangannya.
Melihat aku yang terburu-buru mendatanginya, ia mulai menggodai ku, "Duh,
yang mau ketemu pria idaman, semangat amat sih" katanya sambil
menghidupkan motornya. Aku tersenyum kecil, "ketemu pria idaman sih, iya.
Cuman kalau tugas segunung gini, ya enggak menikmati pertemuannya dong"
jawabku sambil memasang helm yang Dana berikan.
"Iya juga ya" Dana hanya
tertawa kecil. Ia mengancing jaket birunya dan bersiap untuk mengendarai
motornya. "Udah siap?" tanyanya padaku yang sedari tadi berdiri di
samping motornya. "Siap, Dana yang cantik" jawabanku membuat dia
terbahak. kami pun segera menuju tujuan kami, yaitu Perpustakaan Daerah Kota.
Menurutku, perpustakaan daerah kota kami, atau
yang biasa disebut perpusda, sangatlah keren. Begitu aman, nyaman, bersih, rapi,
tenang, plus fasilitas yang lengkap, cocok sekali dijadikan sebagai tempat
belajar untuk para pelajar. Terlebih lagi, untuk anak-anak sekolah sepertiku,
yang membuat kami betah disana adalah pelayanannya yang ramah. Inilah alasan
mengapa aku dan Dana selalu pergi ke sana untuk mengerjakan tugas. Yah, walau
ada alasan yang lain, sih.
"Ay, Ay, itu tuh, itu! Mas Andra!"Baru
saja Dana memarkirkan motornya, ia sudah menjerit-jerit histeris menunjuk seseorang
yang baru saja memasuki pintu perpusda. Tentu saja kami pun langsung menjadi
pusat perhatian semua orang yang ada parkiran perpusda. Aku mendekap mulut Dana dan membungkuk meminta
maaf kepada orang-orang sekitar. Aku mendelik kearahnya yang hanya tersenyum
malu. Duh, sejak kapan Dana jadi genit gini sih? aku hanya menggeleng-gelengkan
kepala.
Pertanyaanku terjawab saat kami berdua
pun memasuki pintu masuk. Dari tempat kami masuk, sudah terlihat jelas sesosok
pria tampan yang berdiri tegap dengan senyuman ramah kearah kami. Siapa lagi
kalau bukan Mas Andra, seseorang yang membuat Dana menjadi menjerit-jerit
histeris seperti tadi dan seseorang yang juga menjadi alasan kami untuk selalu
mengerjakan tugas di perpusda ini. Ketika ia melambaikan tangan, pipiku yang tembam
menghangat dan Dana... Kakinya mendadak lemas.
"Aya
sama Dana rajin bener nih, saya rasa sudah seminggu berturut-turut kalian
berkunjung ke perpusda terus. Banyak tugas ya?" Tanyanya dengan senyum yang
membuat kami hampir mencair. Saat aku sudah siap menjawab, tiba-tiba saja Dana
menyambar, "Iya nih, Mas, banyak banget. Bantuin kita, dong" katanya
tanpa malu sambil mengedipkan mata kanannya kearahku. Astaga, aku mencubit
pelan lengannya. Duh, modus sih, modus. cuman harus tahu malu juga kali!
"Ahahaha, tugas apa sih?" Mas
Andra tertawa kecil melihat kelakuanku dengan Dana yang seperti anak kecil.
"Biologi, Mas. Laporan penelitian gitu" Jawabku singkat. Kalau aku
jawab panjang-panjang, mungkin aku akan meleleh saat itu juga.
"Oh ya? Oke, nanti Mas bantu.
Kalian kerjain sendiri dulu ya? Mas masih ada kerjaan nih, kalau nganggur Mas
pasti bantu kalian" Ia memberikan sebuah kunci loker padaku. "Sudah
isi buku tamu kan? Nih, masukkin tasnya di loker, ya" Katanya sambil
tersenyum. Kemudian ia kembali serius pada pekerjaannya. Kami hanya bisa menghembuskan
napas kecewa ketika perhatian Mas Andra sudah diambil oleh setumpukkan
buku-buku dihadapannya. Kami pun menuju loker untuk memasukkan bawaan kami,
kemudian duduk manis di area membaca. Di belakang tempat kami duduk, banyak
sekali rak-rak buku dengan berbagai macam jenis buku, ada buku pelajaran
sekolah, ada buku tentang agama, tentang politik, kamus berbagai bahasa,
majalah, buku resep, novel, komik, dan lain-lain. Memang surganya buku untuk seseorang
yang suka membaca seperti aku dan Dana. Aku suka membaca buku Biografi para
tokoh terkenal, sedangkan Dana lebih suka membaca novel romantis.
Tak terasa sudah hampir 3 jam kami
berada di perpusda. Jam dinding sudah menunjukkan jam 17.16, tapi tugas kami
baru selesai sekitar 50% lagi. Aku dan Dana mulai mual dengan setumpukan buku
biologi dan panduan membuat makalah di meja. Kami berdua meletakkan kepala kami
ke atas buku yang paling tebal di atas meja. semangat yang tadi mengebu-gebu
saat pulang sekolah sudah terkuras habis sekarang. Yang kami butuhkan sekarang
hanyalah ...
"Aya, Dana. Lemes amat? Perasaan
tadi semangat banget deh" suara seseorang membuat aku dan Dana menegapkan
posisi duduk kami. Mas Andra! Duh, seruku dalam hati. suaranya itu loh, menyegarkan
banget. Kaya hujan diatas gurun pasir.
"Gimana tugasnya?" tanya mas
arif sambil duduk di hadapan kami, "Udah selesai?"
"Baru separuh mas" Kata Dana
lemas. Mukanya terlihat seperti belum makan 2 hari. "Untung dikumpulinnya
Sabtu minggu depan" Lanjutnya.
"Kalau Aya?" Tanya mas Andra
tiba-tiba. Aku tergagap "S-sama kay-kayak Dana, M-mas"
"Mana sih, coba mas liat" Ia
mengambil lembaran kertas folio yang penuh dengan tulisan tanganku. Ia
tersenyum, "Wah, tulisan tangan Aya bagus banget. Rapi". Pipiku
memerah saat ia memuji tulisan tanganku. Dana hanya tersenyum nakal ke arahku,
menahan diri untuk tidak men-cieeciee-kanku yang sedang salah tingkah. Kemudian
Mas Andra bergantian melihat hasil kerjaan Dana. Ia tertawa saat membaca tugas
Dana. Ada pemilihan kata yang lucu, katanya. Dana hanya menggaruk-garuk
kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum malu.
"oh, sudah mahgrib!" Seru Mas
Andra tiba-tiba. Aku dan Dana juga baru tersadar saat melihat keluar jendela
kaca. Ternyata hari sudah mulai gelap. Berarti jadwal jaga Mas Andra sudah
berakhir, dan tandanya bagi kami berdua untuk pulang. Ia pamit untuk pergi
kebelakang untuk mengambil barang-barangnya. Aku dan Dana kembali menghela
napas kecewa karena sudah waktunya berpisah dengan 'penyemangat belajar' kami,
kemudian merapikan barang-barang kami dan membawanya ke loker. Mas Andra sudah
kembali dari belakang. Ia menggenggam sesuatu kertas yang warnanya begitu
mencolok dimataku dan Dana.
"Wah, apa itu mas?" tanya Dana
frontal. Haduh Dana! Aku langsung mengusap wajahku yang malu karena kelakuan
Dana. Agresif amat sih?
Mas Andra tersenyum lebar, "ini
buat kalian" ia memberikan selembar kertas yang dibungkus plastik dengan
rapi pada kami. Di kertas itu tertulis dengan jelas sesuatu yang membuat hati
kami mencelos.
UNDANGAN
PERNIKAHAN
ANDRA&JULIANA
24
AGUSTUS 2016
Aku dan Dana saling bertatapan. Kembali
kami baca ulang tulisan yang tertera di selembar kertas yang ternyata adalah
undangan itu,berharap yang kami baca itu salah. Tetapi nihil. Kami terdiam, hanya
bisa saling mengerdipkan mata, hingga akhirnya Mas Andra angkat bicara,
"Gimana, bisa datang?"
"M-mas Andra, k-k-kawin?" Dana
bertanya sambil terbata-bata. Tangan bergetar memegang undangan pernikahan itu.
Mas Andra terbahak, "Nikah Dana, Nikah. Saya bukan kucing, yang bisa kawin
seenaknya" Entah kenapa, saat itu tawanya menjadi tak merdu lagi
ditelingaku dan Dana. Kami kembali saling bertatapan. Kemudian tanpa aba-aba,
kami langsung berbalik meninggalkan perpusda. Kami berdua sepertinya sepakat
untuk tidak mengatakan sepatah kata pun. Mas Andra terlihat terheran-heran
dengan tingkah laku kami yang berubah seketika melihat undangan yang ia berikan.
"Aya, Dana, Jangan lupa dateng ke
pernikahan saya, ya? Makasih juga sudah berkunjung di perpusda!" Serunya
dari pintu masuk, tepat saat motor Dana sudah berada di gerbang, siap untuk
meninggalkan perpusda. Kalau biasanya kami pulang dari perpusda dengan hati
yang berbunga-bunga, hari ini untuk pertama kalinya, kami pulang dari perpusda
dengan hati yang tidak keruan.
"Ay" Panggil Dana.
"Uy?" Jawabku seadanya. Rasanya malas untuk berbicara tentang apapun
saat ini.
"Kok, aku jadi merasa kosong
ya?" Walau tak sedang berniat bercanda entah kenapa perkataan Dana menjadi
lucu ditelingaku. "Sama, Dan" Aku menatap jalan dengan pandangan
kosong. "Patah hati ternyata gini ya, Dan" Lanjutku.
Dana menggangguk. Ia terdiam, lalu
memulai pembicaraan lagi. "Apa kita harus datang ke pernikahan Mas Andra?"
"Entahlah, Dan. Aku masih
bingung" Kataku sambil membetulkan posisi helmku. Karena ingin cepat-cepat
pergi dari perpusda, aku memasangnya dengan sembarangan tadi.
"Terus, kalau perpusda? apa kita
masih bisa ke perpusda?" tanya Dana dengan polosnya. Patah hati membuat
pikirannya memendek.
"Jelas bisa lah, patah hati enggak
boleh ngebuat semangat membaca kita surut, kali" kataku sambil berapi-api.
Semangatku kembali terbakar saat ingat perpusda yang penuh kenyamanan, yang
mungkin bisa membuatku melupakan patah hatiku pada Mas Andra.
"Jadi kita ketemu Mas Andra lagi
dong, besok?"
"Ya ga apa-apa lah, Dan, kita harus
move on! Masih banyak cowok didunia
ini kok!"
Tiba-tiba, muka Dana terlihat sumringah,
"Iya, ya. Bener apa kata kamu, Ay. Masih banyak cowok didunia ini. Kamu
tau Mas Ilham? Yang jaga tiap hari Jum'at sampe Minggu di perpusda? Dia cakep
juga" Semangat Dana mulai kembali membara saat membayangkan Mas ilham di
kepalanya. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Biar sajalah apa pemikiran
Dana selanjutnya. Yah, Mungkin saja kan, kalau perpusda bisa menjadi tempat aku
dan Dana menemukan cinta yang sebenarnya?