Kamis, 17 November 2016

[Cerpen] Aku, Dana, dan Perpusda

Oke, sekarang tinggal hitung mundur. Tiga... Dua... Satu..
KRINGGG!
Yeay! pekikku dalam hati. Bel tanda berakhirnya kegiatan sekolah berbunyi membuatku senyumku merekah begitu lebar. Dengan semangat kurapikan semua barang-barangku kedalam tasku. Setelah berdoa bersama, ku segerakan kakiku untuk keluar dari kelas, mengambil sepatuku yang ikut tertata rapi didepan kelas, lalu berjalan dengan terburu-buru menuju parkiran sekolah. Aku melihat sahabatku, Dana, sudah duduk manis di atas motornya dengan mengenakan helm warna putih kesayangannya. Melihat aku yang terburu-buru mendatanginya, ia mulai menggodai ku, "Duh, yang mau ketemu pria idaman, semangat amat sih" katanya sambil menghidupkan motornya. Aku tersenyum kecil, "ketemu pria idaman sih, iya. Cuman kalau tugas segunung gini, ya enggak menikmati pertemuannya dong" jawabku sambil memasang helm yang Dana berikan.
"Iya juga ya" Dana hanya tertawa kecil. Ia mengancing jaket birunya dan bersiap untuk mengendarai motornya. "Udah siap?" tanyanya padaku yang sedari tadi berdiri di samping motornya. "Siap, Dana yang cantik" jawabanku membuat dia terbahak. kami pun segera menuju tujuan kami, yaitu Perpustakaan Daerah Kota.

 Menurutku, perpustakaan daerah kota kami, atau yang biasa disebut perpusda, sangatlah keren. Begitu aman, nyaman, bersih, rapi, tenang, plus fasilitas yang lengkap, cocok sekali dijadikan sebagai tempat belajar untuk para pelajar. Terlebih lagi, untuk anak-anak sekolah sepertiku, yang membuat kami betah disana adalah pelayanannya yang ramah. Inilah alasan mengapa aku dan Dana selalu pergi ke sana untuk mengerjakan tugas. Yah, walau ada alasan yang lain, sih.
"Ay, Ay, itu tuh, itu! Mas Andra!"Baru saja Dana memarkirkan motornya, ia sudah menjerit-jerit histeris menunjuk seseorang yang baru saja memasuki pintu perpusda. Tentu saja kami pun langsung menjadi pusat perhatian semua orang yang ada parkiran perpusda. Aku  mendekap mulut Dana dan membungkuk meminta maaf kepada orang-orang sekitar. Aku mendelik kearahnya yang hanya tersenyum malu. Duh, sejak kapan Dana jadi genit gini sih? aku hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Pertanyaanku terjawab saat kami berdua pun memasuki pintu masuk. Dari tempat kami masuk, sudah terlihat jelas sesosok pria tampan yang berdiri tegap dengan senyuman ramah kearah kami. Siapa lagi kalau bukan Mas Andra, seseorang yang membuat Dana menjadi menjerit-jerit histeris seperti tadi dan seseorang yang juga menjadi alasan kami untuk selalu mengerjakan tugas di perpusda ini. Ketika ia melambaikan tangan, pipiku yang tembam menghangat dan Dana... Kakinya mendadak lemas.
  "Aya sama Dana rajin bener nih, saya rasa sudah seminggu berturut-turut kalian berkunjung ke perpusda terus. Banyak tugas ya?" Tanyanya dengan senyum yang membuat kami hampir mencair. Saat aku sudah siap menjawab, tiba-tiba saja Dana menyambar, "Iya nih, Mas, banyak banget. Bantuin kita, dong" katanya tanpa malu sambil mengedipkan mata kanannya kearahku. Astaga, aku mencubit pelan lengannya. Duh, modus sih, modus. cuman harus tahu malu juga kali!
"Ahahaha, tugas apa sih?" Mas Andra tertawa kecil melihat kelakuanku dengan Dana yang seperti anak kecil. "Biologi, Mas. Laporan penelitian gitu" Jawabku singkat. Kalau aku jawab panjang-panjang, mungkin aku akan meleleh saat itu juga.
"Oh ya? Oke, nanti Mas bantu. Kalian kerjain sendiri dulu ya? Mas masih ada kerjaan nih, kalau nganggur Mas pasti bantu kalian" Ia memberikan sebuah kunci loker padaku. "Sudah isi buku tamu kan? Nih, masukkin tasnya di loker, ya" Katanya sambil tersenyum. Kemudian ia kembali serius pada pekerjaannya. Kami hanya bisa menghembuskan napas kecewa ketika perhatian Mas Andra sudah diambil oleh setumpukkan buku-buku dihadapannya. Kami pun menuju loker untuk memasukkan bawaan kami, kemudian duduk manis di area membaca. Di belakang tempat kami duduk, banyak sekali rak-rak buku dengan berbagai macam jenis buku, ada buku pelajaran sekolah, ada buku tentang agama, tentang politik, kamus berbagai bahasa, majalah, buku resep, novel, komik, dan lain-lain. Memang surganya buku untuk seseorang yang suka membaca seperti aku dan Dana. Aku suka membaca buku Biografi para tokoh terkenal, sedangkan Dana lebih suka membaca novel romantis.
Tak terasa sudah hampir 3 jam kami berada di perpusda. Jam dinding sudah menunjukkan jam 17.16, tapi tugas kami baru selesai sekitar 50% lagi. Aku dan Dana mulai mual dengan setumpukan buku biologi dan panduan membuat makalah di meja. Kami berdua meletakkan kepala kami ke atas buku yang paling tebal di atas meja. semangat yang tadi mengebu-gebu saat pulang sekolah sudah terkuras habis sekarang. Yang kami butuhkan sekarang hanyalah ...
"Aya, Dana. Lemes amat? Perasaan tadi semangat banget deh" suara seseorang membuat aku dan Dana menegapkan posisi duduk kami. Mas Andra! Duh, seruku dalam hati. suaranya itu loh, menyegarkan banget. Kaya hujan diatas gurun pasir.
"Gimana tugasnya?" tanya mas arif sambil duduk di hadapan kami, "Udah selesai?"
"Baru separuh mas" Kata Dana lemas. Mukanya terlihat seperti belum makan 2 hari. "Untung dikumpulinnya Sabtu minggu depan" Lanjutnya.
"Kalau Aya?" Tanya mas Andra tiba-tiba. Aku tergagap "S-sama kay-kayak Dana, M-mas"
"Mana sih, coba mas liat" Ia mengambil lembaran kertas folio yang penuh dengan tulisan tanganku. Ia tersenyum, "Wah, tulisan tangan Aya bagus banget. Rapi". Pipiku memerah saat ia memuji tulisan tanganku. Dana hanya tersenyum nakal ke arahku, menahan diri untuk tidak men-cieeciee-kanku yang sedang salah tingkah. Kemudian Mas Andra bergantian melihat hasil kerjaan Dana. Ia tertawa saat membaca tugas Dana. Ada pemilihan kata yang lucu, katanya. Dana hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum malu.
"oh, sudah mahgrib!" Seru Mas Andra tiba-tiba. Aku dan Dana juga baru tersadar saat melihat keluar jendela kaca. Ternyata hari sudah mulai gelap. Berarti jadwal jaga Mas Andra sudah berakhir, dan tandanya bagi kami berdua untuk pulang. Ia pamit untuk pergi kebelakang untuk mengambil barang-barangnya. Aku dan Dana kembali menghela napas kecewa karena sudah waktunya berpisah dengan 'penyemangat belajar' kami, kemudian merapikan barang-barang kami dan membawanya ke loker. Mas Andra sudah kembali dari belakang. Ia menggenggam sesuatu kertas yang warnanya begitu mencolok dimataku dan Dana.
"Wah, apa itu mas?" tanya Dana frontal. Haduh Dana! Aku langsung mengusap wajahku yang malu karena kelakuan Dana. Agresif amat sih?
Mas Andra tersenyum lebar, "ini buat kalian" ia memberikan selembar kertas yang dibungkus plastik dengan rapi pada kami. Di kertas itu tertulis dengan jelas sesuatu yang membuat hati kami mencelos.

UNDANGAN PERNIKAHAN

ANDRA&JULIANA
24 AGUSTUS 2016

Aku dan Dana saling bertatapan. Kembali kami baca ulang tulisan yang tertera di selembar kertas yang ternyata adalah undangan itu,berharap yang kami baca itu salah. Tetapi nihil. Kami terdiam, hanya bisa saling mengerdipkan mata, hingga akhirnya Mas Andra angkat bicara, "Gimana, bisa datang?"
"M-mas Andra, k-k-kawin?" Dana bertanya sambil terbata-bata. Tangan bergetar memegang undangan pernikahan itu. Mas Andra terbahak, "Nikah Dana, Nikah. Saya bukan kucing, yang bisa kawin seenaknya" Entah kenapa, saat itu tawanya menjadi tak merdu lagi ditelingaku dan Dana. Kami kembali saling bertatapan. Kemudian tanpa aba-aba, kami langsung berbalik meninggalkan perpusda. Kami berdua sepertinya sepakat untuk tidak mengatakan sepatah kata pun. Mas Andra terlihat terheran-heran dengan tingkah laku kami yang berubah seketika melihat undangan yang ia berikan.
"Aya, Dana, Jangan lupa dateng ke pernikahan saya, ya? Makasih juga sudah berkunjung di perpusda!" Serunya dari pintu masuk, tepat saat motor Dana sudah berada di gerbang, siap untuk meninggalkan perpusda. Kalau biasanya kami pulang dari perpusda dengan hati yang berbunga-bunga, hari ini untuk pertama kalinya, kami pulang dari perpusda dengan hati yang tidak keruan.

"Ay" Panggil Dana. "Uy?" Jawabku seadanya. Rasanya malas untuk berbicara tentang apapun saat ini.
"Kok, aku jadi merasa kosong ya?" Walau tak sedang berniat bercanda entah kenapa perkataan Dana menjadi lucu ditelingaku. "Sama, Dan" Aku menatap jalan dengan pandangan kosong. "Patah hati ternyata gini ya, Dan" Lanjutku.
Dana menggangguk. Ia terdiam, lalu memulai pembicaraan lagi. "Apa kita harus datang ke pernikahan Mas Andra?"
"Entahlah, Dan. Aku masih bingung" Kataku sambil membetulkan posisi helmku. Karena ingin cepat-cepat pergi dari perpusda, aku memasangnya dengan sembarangan tadi.
"Terus, kalau perpusda? apa kita masih bisa ke perpusda?" tanya Dana dengan polosnya. Patah hati membuat pikirannya memendek.
"Jelas bisa lah, patah hati enggak boleh ngebuat semangat membaca kita surut, kali" kataku sambil berapi-api. Semangatku kembali terbakar saat ingat perpusda yang penuh kenyamanan, yang mungkin bisa membuatku melupakan patah hatiku pada Mas Andra.
"Jadi kita ketemu Mas Andra lagi dong, besok?"
"Ya ga apa-apa lah, Dan, kita harus move on! Masih banyak cowok didunia ini kok!"
Tiba-tiba, muka Dana terlihat sumringah, "Iya, ya. Bener apa kata kamu, Ay. Masih banyak cowok didunia ini. Kamu tau Mas Ilham? Yang jaga tiap hari Jum'at sampe Minggu di perpusda? Dia cakep juga" Semangat Dana mulai kembali membara saat membayangkan Mas ilham di kepalanya. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Biar sajalah apa pemikiran Dana selanjutnya. Yah, Mungkin saja kan, kalau perpusda bisa menjadi tempat aku dan Dana menemukan cinta yang sebenarnya?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar